
Pernahkah kamu berdiri di depan pintu kamar, menatap tumpukan baju yang belum dilipat, sementara kepalamu masih berdenyut karena urusan pekerjaan yang belum tuntas?
Kamu menghela napas panjang, dan untuk sejenak, kamu merasa ingin menghilang
saja.
Aku tahu
rasanya. Kamu merasa seperti mesin yang dipaksa berlari tanpa henti, menjadi
tulang punggung dapur sekaligus sandaran bagi tangisan anak-anak.
Namun, sebelum
kamu menyerah pada rasa kesal itu, coba lihat telapak tanganmu sebentar.
Lelahmu Adalah "Mata Uang" yang Mahal
Mungkin
selama ini kamu menganggap lelah sebagai musuh. Kamu berpikir bahwa beribadah
itu hanya saat kamu tenang dan khusyuk di atas sajadah. Tapi, tahukah kamu? Ada
jenis pahala yang tidak bisa dibeli dengan ketenangan, melainkan hanya bisa
ditebus dengan kelelahan.
Saat
kamu tetap menyuapi si kecil dengan sabar meski pinggangmu terasa mau patah,
atau saat kamu tetap menuntaskan laporan keuangan rumah tangga meski matamu
sudah perih, di situlah nilaimu melitpat ganda.
Ya, begitulah ganjaran amal dalam kelelahan.
Sebab,
melakukan kebaikan saat kita sedang "lapang" itu biasa. Namun, tetap
memberi saat kita sendiri sedang "haus", itulah kemuliaan yang
sesungguhnya.
Mengubah Lelah Menjadi Doa
Coba
ingat-ingat lagi pagi tadi. Kamu bangun lebih awal dari matahari, menyiapkan
segalanya agar rumah berdenyut dengan hangat. Alih-alih berkata, "Duh, aku harus kerja lagi," coba bisikkan
pada dirimu sendiri:
"Terima kasih
karena hari ini aku masih dipilih untuk menjadi sumber kebahagiaan bagi orang
lain."
Kamu
bukan sedang memikul beban, kamu sedang membangun istana. Setiap piring yang
kamu cuci, setiap rupiah yang kamu usahakan, adalah "batu bata" bagi
masa depan mereka. Rasa pegal di bahumu? Itu adalah tanda bahwa kamu sedang
memenangkan pertempuran melawan egomu sendiri.
Rehatlah, Bukan Berhenti
Jadi,
untuk kamu yang malam ini merasa tenaganya sudah berada di titik nol: jangan
membenci lelahmu. Peluklah ia sebagai tanda bahwa kamu telah memberikan yang
terbaik. Kamu tidak sedang kehilangan waktu, kamu sedang menanam saham di
langit.
Istirahatlah
dengan bangga. Karena esok pagi, dunia akan kembali ceria hanya karena kamu
memutuskan untuk bangun dan berjuang lagi.
"Jangan membenci lelahmu hari ini. Sebab bagi langit, peluh yang menetes saat kamu mengurus rumah dan nafkah adalah tasbih yang paling bising bunyinya."
Comments
Post a Comment