5 Cara Jaga Energi Buat Kamu yang Lelah Batin Karena Teman Kerja Toxic

 

(unsplash.com/ Christin Hume)


Kamu datang pagi-pagi, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, menjaga profesionalitas, bahkan menyisihkan waktu untuk membantu tim. Tapi realita di kantor berkata lain: ada satu atau dua rekan kerja yang selalu membawa aura negatif. Mulai dari merasa paling sibuk, menjatuhkan rekan lain secara halus, sampai ikut campur urusan yang bukan tanggung jawabnya.

Atau...

Punya teman yang:

  • Suka mengklaim kerjaan tim jadi prestasi pribadi?

  • Sering meremehkan kerjaan orang lain, padahal kerjaannya sendiri belum tentu rapi?

Kalau iya, catat pola perilakunya. Ini bukan buat nyari masalah, tapi sebagai antisipasi kalau nanti kamu perlu klarifikasi ke atasan atau HR.

Padahal, bukan masalah kalau memang benar-benar sibuk. Tapi yang jadi masalah adalah ketika kesibukannya dijadikan alasan untuk mengganggu ritme kerja orang lain, bahkan sampai bikin rekan-rekan kerja lain merasa bersalah karena tidak terlihat cukup “sibuk” seperti dia.

Sebagai ibu yang juga sedang berjuang menyeimbangkan kerja, rumah, dan diri sendiri, rasanya... melelahkan.

Berikut 5 cara menjaga dirimu dari lingkungan kerja yang nggak sehat agar kamu tetap bisa jadi versi terbaikmu:

1. Sadari bahwa kamu punya pilihan untuk menjaga batas

Kamu tidak harus menyenangkan semua orang. Menjaga batas itu bukan egois, tapi sehat. Kalau ada rekan kerja yang sering menyindir, mengontrol, atau membuat suasana nggak nyaman, kamu boleh menjaga jarak. Komunikasikan secukupnya dan hindari terlibat dalam drama yang melelahkan.

2. Fokus pada pekerjaan, bukan pada sikap orang lain

Kamu datang ke kantor untuk menyelesaikan tanggung jawab, bukan untuk menanggapi semua perilaku orang lain. Alihkan energimu ke hal yang bisa kamu kontrol: kualitas pekerjaan, manajemen waktu, dan progres yang kamu capai sendiri.

3. Buat rutinitas pemulihan sepulang kerja

Pulang kerja bukan berarti langsung berpindah ke mode 'ibu rumah tangga' tanpa jeda. Ambil waktu sejenak untuk memulihkan energi. Bisa dengan mandi air hangat, journaling, memeluk anak, atau sekadar menarik napas panjang. Kamu butuh transisi yang sehat dari dunia kerja ke dunia rumah.

4. Ingat bahwa peranmu di luar kantor jauh lebih luas

Kamu berharga bukan hanya karena pekerjaanmu. Kamu juga pilar keluarga, sosok yang ditunggu anak di rumah, dan pasangan yang dinanti suaminya. Jangan biarkan satu orang di kantor menyedot habis energimu. Prioritaskan siapa yang memang layak kamu beri perhatian.

5. Bangun support system yang bisa dipercaya

Punya teman kerja yang sehat emosional itu bonus. Tapi kalau lingkungan kantormu tidak mendukung, cari dukungan di luar. Bisa lewat komunitas ibu bekerja, teman lama, atau mentor yang bisa membantu kamu melihat masalah dari sudut pandang baru. Jangan memendam sendiri.


Menjaga kewarasan dan energi bukan kemewahan tapi kebutuhan.

Sebagai perempuan yang menjalankan banyak peran, kamu perlu memastikan bahwa energimu cukup untuk hal-hal yang lebih penting dari sekadar drama kantor. Karena pulang kerja dengan hati yang lelah bisa membuatmu kehilangan momen-momen berharga bersama keluarga.

Jadi, yuk mulai belajar berkata cukup. Cukup untuk stres yang nggak perlu. Cukup untuk menyenangkan semua orang. Dan cukup untuk terus memaksa diri tersenyum ketika hati sebenarnya ingin istirahat. Kamu berhak punya ruang aman, bahkan saat kamu bekerja penuh waktu.

Comments